MENYIKAPI ESENSI TAKDIR SEBAGAI SIKAP MUSLIM
(Edisi Khutbah Jum'at, 10 Sya’ban 1447/30 Januari 2026)
Oleh: Endang Yusro
(Kepala SMA MUHAMMADIYAH Kota Serang)
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِيْرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لاَ نَبِيَ وَ رَسُولَ بَعْدَه
اللَّهُمَّ صَلِّي عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينْ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسِانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ
أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ
قَالَ اللهُ وَقَالَ الرَّسُولُ
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
قَالَ اللهُ تَعَالَى :أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَىٰ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِيمُ وصدق الرسول الكريم
Hadirin Jama’ah Jum'at rahimakumullah,
Banyak permasalahan karena merasa diperlakukan tidak adil, dizalimi oleh seseorang, kelompok atau pemerintah lalu kemudian seseorang mengutuk keadaan yang menimpa dirinya sampai pada mencerca yang dianggap melakukan ketidakadilan pada dirinya.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, seringkali kita menyaksikan wujud kesusahan yang melanda diri sendiri atau orang lain.
Ketika langkah kaki terhenti di celah kesulitan, ketika harapan terhempas oleh kenyataan yang kejam, muncul rasa perlakuan tidak adil yang menusuk hati.
Andai tidak berpikir takdir, maka setiap luka yang diterima akan segera diubah menjadi api kemarahan yang membara, menyebar ke setiap sudut kehidupan.
Bayangkan seorang pekerja yang selama bertahun-tahun bekerja dengan penuh dedikasi, tetapi selalu terpinggirkan dalam promosi, sementara rekannya yang bekerja kurang justru mendapatkan kesempatan lebih.
Menghadapi permasalahan ini Allah SWT memerintahkan kepada hamba-Nya untuk bersabar dan menjalankan shalat, sebagaimana Firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar" (Al-Baqarah: 153).
Hadirin jama’ah Jum'at yang dimuliakan Allah,
Gambaran seseorang tersebut perasaannya akan tertekan, merasa haknya dicuri, dan mulai mengutuk - mencela orang yang dianggap menyalahgunakan kekuasaan.
Di lain sisi, kelompok masyarakat yang tinggal di pinggiran kota, yang tanahnya diambil tanpa pemberian ganti rugi yang layak, yang fasilitas dasar tidak terpenuhi, sementara kota semakin maju dengan biaya penderitaan mereka.
Mereka merasa dizalimi, dan rasa tidak adil itu menggerogoti hati, membuat mereka mengutuk sistem yang dianggap tidak adil.
Tanpa berpikir tentang takdir, kutukan ini tidak akan berhenti di tingkat individu atau kelompok—ia akan meluas ke lingkup yang lebih luas, bahkan sampai mengutuk Negeri yang dianggap gagal memberikan keadilan.
Ketika seseorang tidak berpikir takdir, ia melihat setiap kesulitan sebagai sesuatu yang sepenuhnya disebabkan oleh kesalahan orang lain atau sistem yang salah. Sehingga akan menganggapnya terzalimi.
Tidak ada ruang untuk refleksi diri, tidak ada pemahaman bahwa kehidupan penuh dengan lika-liku yang mungkin memiliki makna tersembunyi.
Kutukan terhadap orang lain, kelompok, atau Negeri menjadi sarana untuk melepaskan beban perasaan tidak adil, tetapi hakikatnya justru membuat diri terjebak dalam kesedihan dan kemarahan yang tidak berujung.
Permasalahan tidak terpecahkan, malah menjadi lebih besar karena setiap kutukan sebagai ungkapan kecewa, benci justru akan menciptakan ketegangan yang lebih dalam, memecah persatuan, dan menghalangi upaya untuk mencari solusi bersama.
Negeri, yang seharusnya menjadi tempat perlindungan dan pemberi keadilan, kemudian menjadi sasaran kutukan. Seseorang, golongan, umat parpol, dyl. yang merasa tidak adil melihat negeri sebagai penyebab utama keresahan mereka, tanpa mempertimbangkan kemaslahatan bersama. Islam mengenalnya sebagai Maqashid Syariah (tujuan-tujuan syariat), yaitu menjaga kemaslahatan bersama (kepentingan umum/mashlahah ammah).
Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan satu kesusahan darinya pada hari kiamat..." (HR. Muslim)
Hadirin yang berbahagia,
Mereka lupa bahwa pembangunan yang berkeadilan membutuhkan waktu dan upaya bersama. Tanpa pemikiran takdir, mereka hanya melihat sisi gelap dari kenyataan, tanpa melihat harapan yang masih ada untuk perubahan.
Hanyut dalam kekecewaan sampai dengan mengutuk tidak hanya merusak citra negeri, tetapi juga merusak semangat masyarakatnya untuk bekerja sama menuju masa depan yang gemilang.
Namun demikian, ketika kita memikirkan takdir, tidak berarti kita menyerah pada kenyataan yang tidak adil, kecewa dengan nasib “sial" yang menimpa.
Sebaliknya, pemikiran tentang takdir memberikan ruang untuk ketenangan hati, untuk memahami bahwa setiap pengalaman—baik menyenangkan maupun menyakitkan—memiliki makna yang akan terungkap seiring waktu.
Lebih baik kita berdoa apapun takdir yang Tuhan berikan adalah yang terindah buat kita, karena Allah SWT. Bergantung prasangka Hamba-Nya.
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya:
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri,” (Q.S. ar-Ra’d: 11)
Kemudian dalam hadis qudsi, Allah SWT berfirman:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
Artinya:
"Sesungguhnya Aku sesuai prasangka Hamba-Ku.”
Dalam hal ini, Rasulullah Saw. mengajarkan kepada umatnya untuk berdoa: l
"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu semua kebaikan yang disegerakan maupun yang ditunda, yang aku ketahui maupun tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari semua keburukan, baik yang disegerakan maupun yang ditunda, yang aku ketahui maupun tidak aku ketahui. Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu dari kebaikan apa yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam kepada-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari apa yang diminta perlindungan oleh hamba dan nabi-Mu. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan atau perbuatan. Dan aku memohon kepada-Mu semua takdir yang Engkau tentukan baik untukku." (H.R. Ibnu Majah)
أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم, فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ أَمَّا بَعْدُ.
Hadirin sidang Jum’at yang dirahmati Allah.
Kita masih bisa berjuang menuntut keadilan, tetapi dengan hati yang tenang, tanpa terjebak dalam perbuatan yang menistakan diri sendiri.
Kita bisa mengkritik sistem yang tidak adil, tetapi juga berusaha untuk memperbaikinya, bukan hanya mengutuknya.
Setelah kita berusaha maksimal namun belum juga hadir yang kita harapkan, seandainya tidak berpikir takdir kita akan terjebak dalam putus asa dan kecewa yang tiada tara kemudian mengutuknya tanpa henti yang membuat permasalahan semakin besar dan persatuan semakin terpecah.
Namun, dengan memikirkan takdir, kita bisa menemukan kekuatan untuk menghadapi kesusahan, untuk berjuang dengan penuh keberanian, dan untuk tetap berharap pada keadilan yang akan tiba.
Menutup khutbah ini marilah kita berdoa
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْنِيْ
وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ,وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إنَّك قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ . اللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَاجْعَلْ فِي قُلُوبِهِمْ الْإِيمَانَ وَالْحِكْمَةَ وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ نَبِيِّك وَرَسُولِك . رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٗ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبّى اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُو وَالسَّلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
MENYIKAPI ESENSI TAKDIR SEBAGAI SIKAP MUSLIM(Edisi Khotbah Jumat, 10 Sha'ban 1447/30 Januari 2026.Oleh: Endang Yusro(Kepala SMA MUHAMMADIYAH Kota Serang)Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.Segala puji bagi Allah, kita memuji Dia, kita memohon ampunan-Nya, dan kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejahatan amal kita. Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah maka ia tidak akan disesatkan, dan barangsiapa yang disesatkan maka ia tidak akan mendapat hidayah. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulnya, tidak ada nabi atau rasul sesudah diaYa Allah, solli dan solliala Muhammad, beserta para sahabat dan semua yang engkau ikuti dalam amal hingga hari kiamat.tapi setelahMaka wahai hamba Allah, aku menasehati engkau dan diriku untuk bertakwa kepada Allah dan taat kepada-NyaAllah berkata dan Rasul berkataSesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiriAllah berfirman: Sesungguhnya hamba-Ku adalah Aku.Dan Allah berfirman, "Maha Suci Kitab-Nya:Wahai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah, itu adalah karena waktu-Nya, dan kamu tidak akan mati kecuali kamu orang-orang Islam.Kebenaran Allah, yang agung, dan Rasul, adalah benarHadirin Jama’ah Jum'at rahimakumullah,Banyak permasalahan karena merasa diperlakukan tidak adil, dizalimi oleh seseorang, kelompok atau pemerintah lalu kemudian seseorang mengutuk keadaan yang menimpa dirinya sampai pada mencerca yang dianggap melakukan ketidakadilan pada dirinya.Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, seringkali kita menyaksikan wujud kesusahan yang melanda diri sendiri atau orang lain.Ketika langkah kaki berhenti di celah kesulitan, ketika harapan dihancurkan oleh kejamnya kenyataan, rasa ketidak adilan yang menusuk hati.Andai tidak berpikir takdir, maka setiap luka yang diterima akan segera diubah menjadi api kemarahan yang membara, menyebar ke setiap sudut kehidupan.Bayangkan seorang pekerja yang selama bertahun-tahun bekerja dengan penuh dedikasi, tetapi selalu terpinggirkan dalam promosi, sementara rekannya yang bekerja kurang justru mendapatkan kesempatan lebih.Menghadapi permasalahan ini Allah SWT memerintahkan kepada hamba-Nya untuk bersabar dan menjalankan shalat, sebagaimana Firman-Nya:Wahai orang-orang yang beriman, carilah pertolongan melalui kesabaran dan doa. Allah bersama orang-orang yang sabar."Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar" (Al-Baqarah: 153).Hadirin jama’ah Jum'at yang dimuliakan Allah,Gambaran seseorang tersebut perasaannya akan tertekan, merasa haknya dicuri, dan mulai mengutuk - mencela orang yang dianggap menyalahgunakan kekuasaan.Di lain sisi, kelompok masyarakat yang tinggal di pinggiran kota, yang tanahnya diambil tanpa pemberian ganti rugi yang layak, yang fasilitas dasar tidak terpenuhi, sementara kota semakin maju dengan biaya penderitaan mereka.Mereka merasa dizalimi, dan rasa tidak adil itu menggerogoti hati, membuat mereka mengutuk sistem yang dianggap tidak adil.Tanpa berpikir tentang takdir, kutukan ini tidak akan berhenti di tingkat individu atau kelompok—ia akan meluas ke lingkup yang lebih luas, bahkan sampai mengutuk Negeri yang dianggap gagal memberikan keadilan.Ketika seseorang tidak berpikir takdir, ia melihat setiap kesulitan sebagai sesuatu yang sepenuhnya disebabkan oleh kesalahan orang lain atau sistem yang salah. Sehingga akan menganggapnya terzalimi.Tidak ada ruang untuk refleksi diri, tidak ada pemahaman bahwa kehidupan penuh dengan lika-liku yang mungkin memiliki makna tersembunyi.Kutukan terhadap orang lain, kelompok, atau Negeri menjadi sarana untuk melepaskan beban perasaan tidak adil, tetapi hakikatnya justru membuat diri terjebak dalam kesedihan dan kemarahan yang tidak berujung.Permasalahan tidak terpecahkan, malah menjadi lebih besar karena setiap kutukan sebagai ungkapan kecewa, benci justru akan menciptakan ketegangan yang lebih dalam, memecah persatuan, dan menghalangi upaya untuk mencari solusi bersama.Negeri, yang seharusnya menjadi tempat perlindungan dan pemberi keadilan, kemudian menjadi sasaran kutukan. Seseorang, golongan, umat parpol, dyl. yang merasa tidak adil melihat negeri sebagai penyebab utama keresahan mereka, tanpa mempertimbangkan kemaslahatan bersama. Islam mengenalnya sebagai Maqashid Syariah (tujuan-tujuan syariat), yaitu menjaga kemaslahatan bersama (kepentingan umum/mashlahah ammah).Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda:Setiap jiwa seorang mukmin lebih dekat dengan kehidupan dunia ini, Allah akan lebih dekat kepadanya lebih dekat dengan hari kiamat“Barangsiapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan satu kesusahan darinya pada hari kiamat..." (HR. Muslim)Hadirin yang berbahagia,Mereka lupa bahwa pembangunan yang berkeadilan membutuhkan waktu dan upaya bersama. Tanpa pemikiran takdir, mereka hanya melihat sisi gelap dari kenyataan, tanpa melihat harapan yang masih ada untuk perubahan.Hanyut dalam kekecewaan sampai dengan mengutuk tidak hanya merusak citra negeri, tetapi juga merusak semangat masyarakatnya untuk bekerja sama menuju masa depan yang gemilang.Namun demikian, ketika kita memikirkan takdir, tidak berarti kita menyerah pada kenyataan yang tidak adil, kecewa dengan nasib “sial" yang menimpa.Sebaliknya, pemikiran tentang takdir memberikan ruang untuk ketenangan hati, untuk memahami bahwa setiap pengalaman—baik menyenangkan maupun menyakitkan—memiliki makna yang akan terungkap seiring waktu.Lebih baik kita berdoa apapun takdir yang Tuhan berikan adalah yang terindah buat kita, karena Allah SWT. Bergantung prasangka Hamba-Nya.Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiriArtinya:"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri,” (Q.S. ar-Ra’d: 11)Kemudian dalam hadis qudsi, Allah SWT berfirman:Sesungguhnya aku mengira bahwa hambamu adalah Aku.Artinya:"Sesungguhnya Aku sesuai prasangka Hamba-Ku.”Dalam hal ini, Rasulullah Saw. mengajarkan kepada umatnya untuk berdoa: l"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu semua kebaikan yang disegerakan maupun yang ditunda, yang aku ketahui maupun tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari semua keburukan, baik yang disegerakan maupun yang ditunda, yang aku ketahui maupun tidak aku ketahui. Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu dari kebaikan apa yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam kepada-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari apa yang diminta perlindungan oleh hamba dan nabi-Mu. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan atau perbuatan. Dan aku memohon kepada-Mu semua takdir yang Engkau tentukan baik untukku." (H.R. Ibnu Majah)Aku mengatakan ini dan aku meminta Allah untuk mengampuni aku dan kamu, maka mohonlah ampunan-Nya. Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha PenyayangKotbah KeduaSegala puji bagi Allah yang telah memberkati kita dengan nikmat iman dan kedamaian. Sholawat dan salam solliala Saiyidina Muhammad adalah sebaik-baik tidur. Dan untuk teman-temannya yang terhormat. Aku menjadi saksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, Raja Suci, saw, dan aku menjadi saksi bahwa tuanku dan kekasih kita, Muhammad, adalah hamba dan rasulnya, pemilik kehormatan dan hormat, tetapi setelahnya.
Menghadiri sidang jum'at yg di ridhoi allah.Kita masih bisa berjuang menuntut keadilan, tetapi dengan hati yang tenang, tanpa terjebak dalam perbuatan yang menistakan diri sendiri.Kita bisa mengkritik sistem yang tidak adil, tetapi juga berusaha untuk memperbaikinya, bukan hanya mengutuknya.Setelah kita berusaha maksimal namun belum juga hadir yang kita harapkan, seandainya tidak berpikir takdir kita akan terjebak dalam putus asa dan kecewa yang tiada tara kemudian mengutuknya tanpa henti yang membuat permasalahan semakin besar dan persatuan semakin terpecah.Namun, dengan memikirkan takdir, kita bisa menemukan kekuatan untuk menghadapi kesusahan, untuk berjuang dengan penuh keberanian, dan untuk tetap berharap pada keadilan yang akan tiba.Menutup khotbah ini mari kita berdoaYa Allah, Engkau tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau menciptakan aku dan aku hamba-Mu, dan aku berpegang pada janji-Mu, dan aku berjanji kepada-Mu apa yang aku mampu, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang telah kulakukan, aku memohon kepada-Mu Berkat-Mu kepadaku, dan aku mengampuni dosaku, maka ampunilah aku, karena Dia hanya mengampuni dosa-dosaJadi, wahai muslim, aku berlindung denganmu.Dan kamu adalah orang-orang yang takut kepada Allah, karena orang-orang saleh telah menang, dan kamu tidak akan mati kecuali kamu orang-orang Muslim.اللَّهُمَّ اْفِرِ لِلْمُ ْمِنِينَ وَالْمُ َِمِنَاَمِ وَالْمُسْلِمِينِ وِالْمُسِلِمَةِ\nالْأَحْيَا ءِ مِنْهُمْ وَالِأَمْوَةِ \n\n انَّققِرِيبٍ مُجِيبُ دَّعَوَتَ . اللَّهُمَّ أَصْلِحْ ََتِ بِيْنِهِمْ وَأَلِّفِ بِـْنِ قُلُوْبِهِمِ وَجْعَلْ فِقُلُـربِهُمْ الَْيِيَانِ وَالْحِقْمَّ وَ هَبِّتْهُمْ\nعَلَى مِلَّقِ نَبِيِّك وَرَسُولِك . رَبِّنَآ ءَمِنَا فِي آلدّنْيَا حَسَنَّ ر وَفِي آل رأ رغِرِّ حَسِنَّ َ\nوَقِنَا\nعَ رَابِ رلنَّارِSubhanallah, Robbi, Maha Suci atas apa yang Dia sukai, dan salam atas para rasul, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam



0 Response to " MENYIKAPI ESENSI TAKDIR SEBAGAI SIKAP MUSLIM"
Posting Komentar