Breaking News

Loading...

Biro Iklan Lokal Tangerang Selatan

Jejak Imani Umroh Landing Madinah : Hemat perjalanan darat 7-8 Jam dari Jeddah - Madinah

Jejak Imani Umroh Landing Madinah : Hemat perjalanan darat 7-8 Jam dari Jeddah - Madinah
Memberangkatkan Umroh, Haji Plus, Bersama Jejak Imani Telp. 0813 8468 1151

Pasang IKlan Disini

Pasang IKlan Disini
Biro Iklan Tangerang Selatan Telp. 0813 8468 1151

Rp10 Ribu dan Harga Sebuah Kehidupan Anak

 

Poto: Ist

Rp10 Ribu dan Harga Sebuah Kehidupan Anak

Tragedi meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur yang diduga mengakhiri hidup karena tak mampu membeli buku dan pena bukan sekadar kabar duka. Ia adalah tamparan keras bagi nurani bangsa.

Di negeri yang konstitusinya menjamin hak pendidikan bagi setiap anak, kabar ini terasa nyaris tak masuk akal. Namun justru di situlah letak ironi terbesar kita: akses pendidikan yang di atas kertas gratis, tetapi di lapangan masih menyisakan biaya-biaya kecil yang mematikan harapan.

Buku dan pena mungkin tampak remeh bagi sebagian orang. Harganya tak lebih dari seporsi makan di kota besar. Namun bagi keluarga miskin ekstrem, kebutuhan sederhana itu bisa berubah menjadi beban berat—bahkan tekanan psikologis bagi seorang anak.

Lebih menyedihkan lagi, tragedi ini menunjukkan bahwa anak-anak kita kerap memikul rasa bersalah yang seharusnya tidak pernah menjadi tanggung jawab mereka. Ketika seorang anak merasa dirinya menjadi beban keluarga hanya karena ingin bersekolah, maka yang gagal bukan hanya sistem ekonomi, tetapi juga sistem empati sosial.

Negara sering kali sibuk berbicara tentang anggaran pendidikan, pembangunan infrastruktur sekolah, dan kurikulum. Namun kasus ini membuktikan bahwa pendidikan bukan hanya soal bangunan dan angka statistik, melainkan tentang kehadiran negara dalam hal paling mendasar: memastikan tak satu pun anak tertinggal hanya karena miskin.

Sekolah, pemerintah daerah, dan aparatur sosial seharusnya mampu mendeteksi lebih awal anak-anak yang berada dalam situasi rentan. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga garda terdepan yang melihat perubahan emosi, tekanan batin, dan kesulitan hidup murid-muridnya.

Tragedi ini seharusnya menjadi titik balik. Bukan hanya untuk menyampaikan belasungkawa, tetapi untuk berbenah secara nyata—mulai dari pendataan keluarga miskin yang lebih akurat, penguatan bantuan pendidikan, hingga pendampingan psikososial di sekolah.

Jika tidak, kita akan terus membaca berita serupa, menitikkan air mata sesaat, lalu kembali lupa. Padahal bagi satu anak, kelalaian kolektif kita telah dibayar dengan nyawa.

Dan pada akhirnya, kita patut bertanya dengan jujur:
Apakah negara benar-benar sudah hadir di ruang kelas anak-anak paling miskin?

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Rp10 Ribu dan Harga Sebuah Kehidupan Anak"

Posting Komentar