![]() |
| Illustrasi Gaya Islam Nusantara |
Bahaya Ide Islam Nusantara
Islam nusantara menjadi isu yang ramai
dibicarakan. Pemunculan istilah Islam Nusantara diklaim sebagai ciri khas
Islam di Indonesia yang mengedepankan nilai-nilai toleransi dan bertolak
belakang dengan 'Islam Arab'.
Sebelumnya kita
mengenal istilah-istilah lainya seperti “Islam moderat”, “Islam liberal” dan “Islam
radikal” atau “Islam garis keras”. Tak ayal jika banyak yang beranggapan bahwa
ini adalah proyek yang tidak jauh berbeda dengan proyek-proyek sebelumnya. Tak tangung-tanggung
dalam proyek ini mereka melibatkan para petinggi Negara, petinggi ormas,
cendikiawan dan lembaga pendidikan terutama di Perguruan Tinggi Islam.
Seorang pemikir Islam Azyumardi Azra, Doktor
lulusan Columbia University, Amerika Serikat, penulis buku Islam Nusantara
(2002) dan Islam Subtantif (2000) juga gencar mengapanyekan ide ini. Ia mengatakan model Islam Nusantara atau Islam
Indonesia dibutuhkan oleh masyarakat dunia saat ini, karena ciri khasnya
mengedepankan "jalan tengah", bersifat tawasut (moderat),
tidak ekstrim kanan dan kiri, selalu seimbang, inklusif, toleran dan bisa hidup
berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, serta bisa menerima
demokrasi dengan baik. Ia juga menyebut
cara pandang "normatif dan idealistis atas Islam" itu sebagai
"tidak historis". (sumber : BBC Indonesia).
Kesalahan Dalam Memahami Islam Dan Fakta Sejarah
Ada dua pemahaman fatal yang yang dikemukakan penggagas ide ini.
Yang pertama, Islam Nusantara dianggap Islam yang distingtif, Islam
Unik. Ini adalah gagasan baru bagi mereka. Mereka memahami bahwa nilai-nilai
ajaran Islam yang sudah disesuaikan dengan budaya Indonesia -yang moderat,
inklusif dan menjaga adat budaya- berbeda dengan nilai-nilai ajaran Islam yang
disesuaikan denagn budaya bangsa lain, terutama bangsa arab yang cenderung
kaku, normatif, idealis bahkan menjadi biang konflik.
Kedua, mereka memahami bahwa proses masuknya ajaran Islam ke
wilayah Nusantara melalui proses vernakularisasi (disesuaikan
kedaerahan). Dengan kata lain Islam disebarkan ke nusantara melalui jalan
pendekatan budaya, dan disesuaikan dengan adat istiadat masing-masing daerah.
Pemahaman yang pertama timbul akibat salah dalam memahami esensi
Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Mereka mengklaim bahwa sebagai wujud rahmat
bagi semesta alam Islam dapat disesuaikan denagn adat dan budaya disuatu
bangsa. Padahal Islam sebagai rohmatan
lil’alamin harus difahami sesuai dengan apa yang ada pada sumbernya, yaitu
Al-qur’an, hadis, Ijma shahabat dan qiyas syari’.
Allah
swt. berfirman,
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا
وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Aku
tidak mengutus kamu, melainkan untuk umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa
berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada
mengetahui.” (QS. Saba’: 2l8)
Dalam
tafsirnya, al-Hafidz Ibnu Katsir menfsirkan ayat ini, bahwa Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam diutus untuk seluruh makhluk. Semua yang mukallaf. Baik
orang arab maupun luar arab. Yang paling mulia diantara mereka, adalah yang
paling taat kepada Allah. (Tafsir Ibn Katsir, 6/518).
Dalam
ayat ini dijelaskan bahwa risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw tidak
dikhususkan untuk suatu bangsa tertentu melainkan risalah untuk seluruh manusia
dari bangsa manapun yang ada didunia.
Kemudian
firman Allah swt dalam surat Al-Anbiya ayat 107:
وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين
“Dan
aku tidak mengutus kamu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam”
Para
ulama memahami bahwa yang menjadi rahmat bagi semesta alam adalah risalah yang
dibawa oleh nabi Muhammad SAW, yaitu risalah Islam yang akan menuntun manusia
dari jalan kegelalapan dan kebodohan menuju jalan yang penuh dengan hidayah dan
kebenaran.
Dalam
penjelasan diatas sangat jelas bahwa islam sebagai rahmat tidaklah diartikan
sebagai islam yang dapat disesuaikan dengan adat dan budaya bangsa tertentu,
justru sebaliknya ummat manusia harus menrubah dan menghilangkan adat dan
budaya yang tidak sesuai dengan Islam.
Adapun pemahaman kedua timbul akibat kesalahan dalam memahai
sejarah. Penyebaran islam di Nusantara tidak terlepas dari perjuangan wali
songo yang diutus oleh para Kholifah. Indonesia yang semula bercorak animism,
dinamisme, hindu dan budha dirubah menjadi bangsa berpenduduk mayoritas muslim
terbesar di dunia.
Nabi Muhammad saw. telah berhasil secara gemilang menerapkan Islam
secara Kaffah dalam bingkai Daulah Islam kemudian diikuti oleh para sahabat dan
ummat setelahnya dari generasi ke generasi. Islam memberikan kontribusi yang
luar biasa bagi kemajuan peradaban dunia dan selama 12 abad menjadi Negara
adidaya yang tak tertandingi. Islam tidak hanya diterima oleh bangsa Aarab,
namun Islam telah diemban dan diterima oleh berbagai macam suku bangsa. Mulai
dari bangsa Persia, Afrika, Romawi atau Eropa, India, Cina, dan termasuk bangsa
kita. Islam tidak hanya merubah pola pikir mereka, namun Islam telah merubah
adat dan budaya jahiliyah yang rusak yang membelenggu mereka selama berabad
abad lamanya.
Berdasarkan tinjauan diatas, dapat kita simpulkan bahwa Islam tidak
pernah mengalami perubahan semenjak diturunkannya kepada Nabi Muhammad
Shallallahu alaihi Wasallam, dan tidak pernah berubah karena faktor geografis, islam
tetap agama yang satu. Bangsa apaun yang menerima Islam, mereka akan
menyesuaikan adat istiadat mereka dengan Islam. Budaya yang dianggap menyalahi
Islam, harus mereka tinggalkan, dan mereka harus membangun peradaban yang
dibimbing oleh hidayah Islam.
![]() |
| Dwitama Spanduk Advertising |
Bahaya
Ide Islam Nusantara
1.
Propaganda Memecah
Belah Ummat
Islam
dengan berbagai labelnya seperti “islam Indonesia” atau “islam timur tengah”
sebenarnya sama dengan istilah “islam radikal” dan “islam militant” atau yang
lainnya. Pengkotak-kotakan seperti ini sebenarnya murni merupakan bagian dari strategi
barat menghancurkan ummat Islam. Ini sebagaimana yang dituangkan dalam dokumen
rand corporation. Strategi penghancuran ini dibangun dengan dasar falsafah
devide et impera atau politik pecah belah.
Ini
semakin jelas dengan adanya statemen pimpinan JIL, Ulil Abshor Abdala, dalam
akun twiter pribadinya (27/6/2015) mengatakan ,” ciri Islam Nusantara adalah tidak
memusuhi syiah dan menganggap mereka bagian sah dari Ummat Islam, beda dengan
Islam wahabi dan simpatisannya”. (Islamedia). Tampak jelas dari statemennya ia
mencoba menerapkan strategi belah bambu antara dua kelompok Islam.
2.
Penyesatan Politik
Dan Pemikiran
Semangat “Islam Indonesia”
yang lahir dari sentimen nasionalisme sangat berbahaya. Nabi saw. sendiri
menyebut sntimen nasionalisme itu sebagai muntinah” (barang yang busuk).
Apalagi ide “Islam Indonesia” dan “Islam Turki” telah didesain dan dimanfaatkan
oleh Amerika dan dan Negara kafir penjajah untuk melepaskan ummat islam dari
islam yang sesungguhnya. (Al-Islam, edisi 759)
Pemahaman ini akhirnya menjurus pada perpecahan Islam, menganggap
umat islam yang ada di negaranya berlepas diri dari ummat islam yang ada di
negri yang lain.
Pemahaman yang lebih berbahaya lainnya adalah adanya tuduhan bahwa
islam adalah penyebab dibalik konflik berkepanjangan yang terjadi di Timur
Tengah. Padahal sejatinya wilayah itu terus membara akibat strategi penjajahan
Barat. Wilayah itu menjadi ajang pertarungan antara Amerika, Inggris dan
Prancis. Karena itu mengkambinghitamkan Islam sebagai biang konflik, selain
berbahaya, juga memalingkan ummat dari musuh yang sesungguhnya, yaitu penjajah
barat dengan sekularisme dan kapitalismenya.
3.
Membendung
tegaknya Khilafah ala Minhajinnubuwwah
Barat sangat menyadari kesadaran ummat akan wajibnya menegakan khilafah
kian hari semakin meningkat. Mereka melakukan survei dan jajak pendapat untuk
mengukur sejauh mana keinginan dan kebutuhan ummat akan khilafah. Mereka
melakukan berbagai propaganda, penyesatan opini dan penyesatan pemikiran untuk
menjauhkan ummat dari pemahaman Islam yang sesungguhnya. Mereka merayu ummat untuk
tetap berpegang pada Sistem Demokrasi dan menerima aturan-aturannya agar
selamanya tetap berada dalam cangkraman kafir penjajah.
Allah swt. berfirman dalam surat Al-an’am ayat 112
وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا شياطين الإنس والجن يوحي بعضهم إلى بعض زخرف
القول غرورا...
“dan
demikian kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan (dari jenis
) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikan sebagian yang lain
perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)…”
.
يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ
اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya)
mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang
kafir membencinya".
Dengan demikian, ide Islam Nusantara sejatinya adalah makar yang
diprakarsai oleh kafir penjajah dan para anteknya untuk menipu dan menjauhkan
ummat dari Islam yang sesungguhnya, agar ummat tetap menerima demokrasi dan
nasionalisme dengan tujuan membendung tegaknya kembali Khilafah ‘ala minhaj
an-nubuwwah. Wallahu a’lam bish-showab.


0 Response to "Bahaya Ide Islam Nusantara"
Posting Komentar